KISAH NABI IBRAHIM A.S,

Posted by d'caliphate Friday, November 20, 2009 0 comments

Nabi Ibrahim a.s. (إبراهيم عليه السلام) (sekitar 2013 SM-?) merupakan nabi yang sangat penting dalam agama Islam, dan juga agama lain seperti Kristian dan Yahudi. Beliau telah diberi gelaran Khalil Ullah, atau Sahabat Allah. Selain itu beliau bersama anaknya nabi Ismail a.s. terkenal sebagai pengasas Kaabah.
Sejarah awal Nabi Ibrahim a.s.
Nabi Ibrahim adalah putera Aaazar {Tarih} bin Tahur bin Saruj bin Rau' bin Falij bin Aaabir bin Syalih bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh A.S.. Ia dilahirkan di sebuah tempat bernama "Faddam A'ram" dalam kerajaan "Babylon" yang pada waktu itu diperintah oleh seorang raja zalim bernama "Namrud bin Kan'aan." Sebelum itu keadaan tempat kelahirannya berada dalam kucar-kacir. Ini adalah kerana Raja Namrud mendapat petanda bahawa seorang bayi akan dilahirkan disana dan bayi ini akan membesar dan merampas takhtanya. Antara sifat insan yang akan menentangnya ini ialah dia akan membawa agama yang mempercayai satu tuhan dan akan menjadi pemusnah batu berhala. Insan ini juga akan menjadi penyebab Raja Namrud mati dengan cara yang dahsyat. Oleh itu Raja Namrud telah mengarahkan semua bayi yang dilahirkan di tempat ini dibunuh, manakala golongan lelaki dan wanita pula telah dipisahkan selama setahun.
Walaupun begitu dalam keadaan cemas ini, kehendak Allah tetap terjadi. Isteri Aazar telah mengandung namun tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Pada suatu hari dia terasa seperti telah tiba waktunya untuk melahirkan anak dan sedar sekiranya diketahui Raja Namrud yang zalim pasti dia serta anaknya akan dibunuh. Dalam ketakutan, ibu nabi Ibrahim telah bersembunyi dan melahirkan anaknya di dalam sebuah gua yang berhampiran. Selepas itu, dia memasuki batu-batu kecil dalam mulut bayinya itu dan meninggalkannya keseorangan. Seminggu kemudian, dia bersama suaminya telah pulang ke gua tersebut dan terkejut melihat nabi Ibrahim a.s masih hidup. Selama seminggu, bayi itu menghisap celah jarinya yang mengandungi susu dan makanan lain yang berkhasiat. Semasa berusia 15 bulan tubuh Nabi Ibrahim telah membesar dengan cepatnya seperti kanak-kanak berusia dua tahun. Maka kedua ibubapanya berani membawanya pulang kerumah mereka.
Nabi Ibrahim a.s mencari Tuhan yang sebenarnya
Pada masa Nabi Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme iaitu menyembah lebih dari satu Tuhan. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil lagi nabi Ibrahim a.s. sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia cuba mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.
Dalam al-Quran Surah al-Anaam (ayat 76-78) menceritakan tentang pencariannya dengan kebenaran. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: "Inikah Tuhanku?" Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang". Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia: "Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat". Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia: "Inikah Tuhanku? Ini lebih besar". Setelah matahari terbenam, dia berkata pula: ` Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya). Inilah daya logik yang dianugerah kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima tuhan yang sebenarnya.
Nabi Ibrahim a.s. sewaktu remaja
Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calun pembeli dengan kata-kata:" Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? "
Nabi Ibrahim Ingin Melihat Bagaimana Makhluk Yang Sudah Mati Dihidupkan Kembali Oleh Allah
Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebalkan iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.Berserulah ia kepada Allah: "Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati." Allah menjawab seruannya dengan berfirman: Tidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku?." Nabi Ibrahim menjawab:"Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kukuh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu."
Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain. Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain.
Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada. Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya dan hanya kata "Kun" yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikehendaki "Fayakun".
Nabi Ibrahim Berdakwah Kepada Ayah Kandungnya
Aazar, ayah Nabi Ibrahim tidak terkecuali sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala bah ia adalah pedagang dari patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan daripadanya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyedarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh.Beliau merasakan bahawa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahawa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dpt mendtgkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran syaitan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi lagi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.
Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Nabi Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam maki hamun seakan-akan tidak ada hubungan diantara mereka. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar: "Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku ? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan cuba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi bercampur denganmu didalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya berkata: "Wahai ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu." Lalu keluarlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih karena gagal mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kufur.


Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya kerana ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendpt hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anuti dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahawa apabila mereka sudah tidak berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang bapa-bapa dan nenek moyang mereka lakukan sejak turun-temurun dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.
Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi untuk berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang keras kepala dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahawa mereka tidak akan menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun telah Nabi Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahawa mereka dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis. Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.
"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan." kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:"Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu." Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mrk:"Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdpt kepastian yyang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dpt diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mrk. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap Raja Namrud yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud:"Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merosakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:"Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Raja Namrudpun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud itu:"Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya itu, Raja Namrud mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukuman atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:"Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya."
Nabi Ibrahim Dibakar Hidup-hidup
Keputusan mahkamah telah dijatuhkan. Nabi Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang diaturkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bahagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.
Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperolehi barakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Nabi Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panasnya wap yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Nabi Ibrahim diangkat ke atas sebuah gedung yang tinggi lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala itu dengan iringan firman Allah:"Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim."
Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Nabi Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan korban keganasan orang-orang kafir musuh Allah. Dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Nabi Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.
Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula mempersoalkan kepercayaan kepada Raja Namrud. Malah anak perempuan Raja Namrud sendiri iaitu Puteri Razia mula mempercayai agama yang dibawa oleh beliau. Lalu Puteri itupun mengaku di hadapan khalayak ramai bahawa tuhan nabi Ibrahim a.s. adalah tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan beliau yang mengarahkan tenteranya untuk membunuh puterinya itu. Puteri itupun meluru ke arah api yang besar itu lalu berkata "Tuhan Nabi Ibrahim selamatkanlah aku". Puteri Razia pun turut terselamat daripada terbakar dan dalam api yang membara itu kedengaran dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan derhaka puterinya menjadikan Raja Namrud semakin murka. Sebaik sahaja puteri Razia keluar daripada api tersebut beliau serta tenteranya telah mengejarnya kedalam hutan. Ini memberi peluang kepada Nabi Ibrahim serta adik tirinya Sarah, bapanya Azaar serta anak saudaranya Nabi Luth a.s. untuk melarikan diri. Raja Namrud dan tenteranya puas mencari Puteri Razia tetapi puteri itu telah hilang. Selepas sekian lama, merekapun pulang dan mendapati bahawa Nabi Ibrahim turut terlepas. Setelah peristiwa ini, Raja Namrud kian gelisah kerana rakyatnya mula hilang kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh itu, beliau berazam pula untuk membunuh Tuhan nabi Ibrahim.
Mukjizat yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Nabi Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khuatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak Nabi Ibrahim.
Agama Nabi Ibrahim
Sebelum kedatangan Islam dengan membawa Al-Quran, kaum Yahudi dan Kristian sering bertelingkar mengenai status agama Nabi Ibrahim a.s. yang sebenarnya.Namun begitu turunnya ayat Allah untuk menerangkan perihal agama Nabi Ibrahim serta pegangan Akidah Tauhidnya:
Firman Allah SWT yang bermaksud:
• "Wahai Ahli Kitab!(Yahudi dan Kristian) Mengapa kamu berani mempertengkarkan tentang(agama)Nabi Ibrahim,padahal Taurat(Torah) dan Injil (Gospel) tidak diturunkan melainkan kemudian(lewat)daripada (zaman)Ibrahim;patutkah(kamu berdegil sehingga)kamu tidak mahu menggunakan akal?"
• "Ingatlah!Kamu ini orang-orang(bodoh),kamu telah memajukan bantahan tentang perkara yang kamu ada pengetahuan mengenainya(yang diterangkan perihalnya dalam Kitab Taurat),maka mengapa kamu membuat bantahan tentang perkara yang tidak ada pada kamu sedikit pengetahuan pun bersabit dengan nya? Dan (ingatlah),Allah mengetahui(hakikat yang sebenarnya)sedang kamu tidak mengetahuinya."
• "Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk agama Yahudi,dan bukanlah ia seorang pemeluk agama Kristian,tetapi ia seorang yang tetap di atas dasar tauhid sebagai seorang Muslim (Hanif)(yang mendengar dan patuh/taat serta berserah bulat-bulat kepada Allah),dan ia pula bukanlah dari orang-orang musyrik(golongan yang menyekutukan Allah)."
• "Sesungguhnya orang-orang yang hampir sekali kepada Nabi Ibrahim (dan berhak mewarisi agamanya)ialah orang-orang yang mengikutinya dan juga Nabi(Muhammad)ini serta orang-orang yang beriman(umatya umat Islam).Dan (ingatlah),Allah ialah Pelindung dan Penolong sekalian orang yang beriman."
Surah Ali-Imran(ayat 65-68)Al-Quran.

IMAM SYAFIE RAHIMAHULLAH

Posted by d'caliphate 0 comments


BIODATA IMAM SHAFIE

Nama penuh: Abu Abdullah Muhammad ibn Idris ibn Abas ibn Usman ibn Syafi' ibn 'Ubaid ibn Abdu Yazid ibn Hashim ibn Mutolib ibn Abdu Manaf.


Nasab keturunan dengan Nabi Muhammad S.A.W: melalui datuk baginda Abdu Manaf dan melalui nasab ibu kepada Imam Syafie, Fatimah binti Abdullah ibn Hasan ibn Hussin ibn Ali ibn Abi Talib. Hubungan nasab ini diakui jumhur ulamak.


Lahir: Tahun 150 H di Ghazzah, Palestin.

Kehidupan: Beliau membesar di dalam keluarga yang fakir di Palestin. Bapanya meninggal ketika Imam Syafie kecil lagi. Ketika berumur 2 tahun ibunya telah membawa ke Kota Makkah untuk berjumpa dengan saudara mara beliau dari keturunan yang dihormati.


Ketika Imam Syafie berumur 7 tahun, beliau telah pun menghafaz Al Quran dan selepas itu beliau menghafaz pula hadith-hadith Rasulullah S.A.W. Imam Syafie juga menguasai ilmu bahasa Arab fushah. Di usia mudanya, beliau menuntut ilmu dari ramai fuqaha' di Makkah sehinggakan beliau diminta untuk memberi pandangan dalam menyelesaikan masalah agama.

Tentang ketaatan beliau dalam beribadah kepada Allah di ceritakan bahawa setiap malam beliau membaHAgi malam itu kepada tiga bahagian. Sepertiga malam beliau gunakan kewajipan sebagai manusia yang mempunyai keluarga, sepertiga malam untuk solat dan zikir dan sepertiga lagi untuk tidur.

Imam Syafie kerap berhijrah ke luar negara untuk mengutip mutiara ilmu dari ramai ulamak yang tersohor pada masa itu. Beliau pergi ke Madinah Al Munawwarah untuk berjumpa dengan Imam Malik dan tinggal bersamanya sehingga ke penghujung hayat Imam Malik. Imam Malik meninggal dunia pada tahun 179 H.

Setelah itu Imam Syafie menyibukkan diri dengan ilmu agama dan beliau bertugas di Yaman. Ketika beliau di Yaman, beliau diangkat menjadi setiausaha dan penulis istimewa Gabenor di Yaman, sekaligus menjadi guru besar di sana. Oleh kerana beliau termasuk orang pendatang, secara tiba-tiba memangku jawatan yang tinggi, maka ramai orang yang memfitnah beliau.

Imam Syafie masuk ke Baghdad sebanyak 3 kali. Kali pertama pada tahun 183 H ataupun sebelum Khilafah Harun Ar Rashid. kali kedua pada tahun 195 H dan tinggal di Baghdad selama 2 tahun. Kali ketiga pada tahun 198 H.

Ahli sejarah telah menceritakan bahawa waktu Khalifah Harun Ar-Rasyid sedang marah terhadap kaum Syiah, kerana golongan tersebut berusaha untuk meruntuhkan kekuasaan Abbasiyah, mereka berhasrat mendirikan sebuah kerajaan Alawiyah iaitu keturunan Saidina Ali bin Abi Talib. Justru, di mana sahaja kaum Syiah berada mereka diburu dan dibunuh.

Satu kali datang surat khalifah dari Baghdad. Dalam surat yang ditujukan kepada Wali negeri itu diberitahukan supaya semua kaum Syiah ditangkap. Untuk pertama kali yang paling penting adalah para pemimpinnya. Jika urusan penangkapan telah selesai semua mereka akan dikirimkan ke Baghdad. Semuanya harus dibelenggu dan dirantai. Imam Syafie juga ditangkap kerana di dalam surat tersebut dinyatakan bahawa beliau termasuk dalam senarai para pemimpin Syiah.

Ketika peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, Imam Syafie dibawa ke Baghdad dengan dirantai kedua belah tangannya. Dalam keadaan dibelenggu itu para tahanan disuruh berjalan kaki mulai dari Arab Selatan (Yaman) sampai ke Arab Utara (Baghdad), yang menempuh perjalanan selama dua bulan. Sampai di Baghdad belenggu belum dibuka, yang menyebabkan darah-darah hitam melekat pada rantai-rantai yang mengikat tangan mereka.

Pada suatu malam pengadilan pun dimulai. Para tahanan seorang demi seorang masuk ke dalam bilik pemeriksaan. Setelah mereka ditanya dengan beberapa soalan, mereka dibunuh dengan dipenggal leher tahanan tersebut. Agar darah yang keluar dari leher yang dipotong itu tidak berselerak ia dialas dengan kulit binatang.

Imam Syafie dalam keadaan tenang menunggu giliran, memohon dari Allah SWT. Beliau dipanggil ke hadapan khalifah. Imam Syafie menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT. Dengan keadaan merangkak kerana kedua belah kaki beliau diikat dengan rantai, Imam Syafie mengadap khalifah. Semua para pembesar memerhatikan beliau.

“Assalamualaika, ya Amir al-Mukminin wabarakatuh.”
Demikian ucapan salam beliau kepada baginda dengan tidak disempurnakan iaitu “Warahmatullah.”

“Wa alaikassalam warahmatullah wabarakatuh.” Jawab baginda. Kemudian baginda bertanya: “Mengapa engkau mengucap salam dengan ucapan yang tidak diperintahkan oleh sunnah, dan mengapa engkau berani berkata-kata dalam majlis ini sebelum mendapat izin dari saya?”

Imam Syafie menjawab: “Saya tidak mengucapkan kata “Warahmatullah” kerana rahmat Allah itu terletak dalam hati baginda sendiri.” Mendengar kata-kata itu hati baginda jadi lembut. Kemudian Imam Syafie membaca surah An-Nur ayat 55 yang bermaksud:

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang soleh bahawa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.”

Setelah membaca ayat di atas, Imam Syafie berkata: “Demikianlah Allah telah menepati janjiNya, kerana sekarang Tuanku telah menjadi khalifah, jawapan salam Tuanku tadi membuat hati saya menjadi aman.” Hati baginda menjadi bertambah lembut. Baginda Harun ar Rashid bertanya kembali: “Kenapa engkau menyebarkan faham Syiah, dan apa alasanmu untuk menolak tuduhan atas dirimu.”

“Saya tidak dapat menjawab pertanyaan Tuanku dengan baik bila saya masih dirantai begini. Jika belenggu ini dibuka Insya-Allah saya akan menjawab dengan sempurna. Lalu baginda memerintahkan kepada pengawal untuk membukakan belenggu yang mengikat lmam Syafie itu.

Setelah rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya itu dibuka, maka Imam Syafie duduk dengan baik kemudian membaca surah al-Hujarat ayat 6:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq yang membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”


“Ya Amirul Mukminin, sesungguhnya berita yang sampai kepada Tuanku itu adalah dusta belaka. Sesungguhnya saya ini menjaga kehormatan Islam. Dan Tuankulah yang berhak memegang adab kitab Allah kerana Tuanku adalah putera bapa saudara Rasulullah SAW iaitu Abbas. Kita sama-sama menghormati keluarga Rasulullah. Maka kalau saya dituduh Syiah kerana saya sayang dan cinta kepada Rasulullah dan keluarganya, maka demi Allah, biarlah umat Islam sedunia ini menyaksikan bahawa saya adalah Syiah. Dan tuan-tuan sendiri tentunya sayang dan cinta kepada keluarga Rasulullah.” Demikian jawab Imam Syafie.

Baginda Harun ar Rasyid menundukkan kepalanya. Ia berkata kepada Imam Syafie: “Mulai hari ini bergembiralah engkau agar lenyaplah perselisihan antara kami dengan kamu, kerana kami harus memelihara dan menghormati pengetahuanmu wahai Imam Syafie.”


Beliau menjadi masyhur di kalangan umat Islam pada ketika itu. Setelah itu beliau berhijrah ke Mesir. Imam Syafie keluar masuk Mesir terlalu kerap sehinggakan tidak diketahui berapa kali.
Sebelum Imam Syafie pulang ke rahmatullah, beliau sempat berwasiat kepada para muridnya dan umat Islam seluruhnya. Berikut ialah kandungan wasiat tersebut:
“Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan sepuluh perkara.”


PERTAMA: HAK KEPADA DIRI iaitu: mengurangkan tidur, mengurangkan makan, mengurangkan percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.
KEDUA: HAK KEPADA MALAIKAT MAUT iaitu: mengqadhakan kewajipan-kewajipan yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang kita zalimi, membuat persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada Allah.
KETIGA : HAK KEPADA KUBUR
iaitu : membuang tabiat suka menabur fitnah, membuang tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat Tahajjud dan membantu orang yang dizalimi.
KEEMPAT: HAK KEPADA MUNKAR DAN NAKIR iaitu : Tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat menasihati.
KELIMA : HAK KEPADA MIZAN (NERACA TIMBANGAN AMAL PADA HARI KIAMAT) iaitu : menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menanggung kesusahan.
KEENAM : HAK KEPADA SIRAT (TITIAN YANG MERENTANGI NERAKA PADA HARI AKHIRAT) iaitu : membuang tabiat suka mengumpat, bersikap warak, suka membantu orang beriman dan suka berjemaah.
KETUJUH : HAK KEPADA MALIK (PENJAGA NERAKA) iaitu : menangis lantaran takutkan Allah SWT, berbuat baik kepada ibu bapa, bersedekah secara terang-terangan serta sembunyi dan memperelok akhlak.
KELAPAN : HAK KEPADA RIDHWAN (MALAIKAT PENJAGA SYURGA) iaitu : redha dengan Qadha’ Allah, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas nikmat Allah dan bertaubat dari melakukan maksiat.
KESEMBILAN : HAK KEPADA NABI S.A.W iaitu : berselawat ke atas Baginda, berpegang dengan syariat, bergantung kepada as-Sunnah (Hadith), menyayangi para sahabat, dan bersaing dalam mencari keredhaan Allah.
KESEPULUH : HAK KEPADA ALLAH SWT iaitu : mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah manusia dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.

Sehingga pada tahun 199 H Imam Syafie masuk semula ke Mesir dan meninggal dunia di Mesir pada malam Jumaat yang penuh barakah. Beliau dikebumikan selepas Asar pada hari Jumaat bertarikh 29 Rejab 204 H bersamaan 19 Januari 820 M.







KISAH NABI ISMAIL A.S.

Posted by d'caliphate 0 comments


Kelahiran Nabi Ismail

Nabi Ibrahim merupakan putera pertama nabi Ibrahim. Bonda baginda ialah Siti Hajar yang merupakan isteri kedua nabi Ibrahim. Siti Hajar merupakan seorang wanita yang setia. Beliau berkahwin dengan nabi Ibrahim dengan keizinan isteri pertama baginda, Siti Sara. Nabi Ismail dilahirkan ke dunia hasil doa nabi Ibrahim yang begitu inginkan zuriat.

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang sabar. "

(ash-Shaafaat, 37:100-101)

Tidak lama selepas kelahiran nabi Ismail, baginda dibawa berhijrah oleh ayahandanya, nabi Ibrahim beserta Siti Hajar ke sebuah tempat yang tandus di atas perintah Allah. Di sana baginda telah ditinggalkan bersama bondanya. Tempat ini merupakan sebuah lembah gersang yang tidak mempunyai sumber air dan hidupan lain.Walaupun berat hati nabi Ibrahim untuk meninggalkan puteranya yang baru lahir dan isterinya yang tercinta, namun atas kepatuhannya kepada perintah Allah, baginda terpaksa pergi. Baginda menyerahkan segalanya kepada Allah di samping berdoa,

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhanku kami (yang demikian itu) agar mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebahagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (Ibrahim, 14:37)

Suasana pemergian nabi Ibrahim adalah sungguh hiba. Nabi Muhammad pernah bersabda, 'Nabi Ibrahim membawa isteri dan anaknya yang masih lagi menyusu. Mereka ditempatkan berdekatan dengan tapak Kaabah sekarang. Pada waktu itu Mekah masih lagi tidak berpenghuni dan tiada sumber air. Nabi Ibrahim turut meninggalkan bungkusan berisi tamar dan bekas kulit yang penuh dengan air. Di saat keberangkatan nabi Ibrahim, Siti Hajar mengejar baginda seraya berkata, "Wahai kekandaku, ke manakah kekanda akan pergi? Tergamak hati kekanda meninggalkan kami bersendirian di bumi yang tandus ini. Apakah yang kami akan lakukan setelah bekalan ini habis kelak?" Siti Hajar mengulanginya beberapa kali, namun nabi Ibrahim tetap meneruskan langkahnya. Kemudian Siti Hajar bertanya adakah ini perintah dari Tuhan. Nabi Ibrahim menganggukkan kepalanya dan terus berjalan. Siti Hajar berpatah balik dengan penuh reda, kerana percaya bahawa Allah sentiasa berada disisinya dan melindunginya.

Tidak lama kemudian, bekalan yang ditinggalkan mulai habis. Nabi Ismail mulai menangis kerana kehausan. Siti Hajar tidak sampai hati melihat keadaan anaknya. Dia berlari tujuh kali berulang dari Bukit Safa dan Marwa untuk mencari air. Semasa berlari untuk kali kelapan, beliau melihat anaknya, nabi Ismail menghentakkan kakinya ke tanah. Maka dengan kuasa Allah, terpancutlah air dari rekahan tanah yang dihentak tadi. Siti Hajar lantas meminum air itu dan terus menyusui Nabi Ismail. Mata air itu terus mengalir hinggalah sekarang dan dikenali sebagai air zam zam.

Dugaan dari Tuhan

Peristiwa Siti Hajar berlari di antara Bukit Safa dan Marwa merupakan satu sejarah besar di dalam Islam. Ia telah dijadikan salah satu daripada Rukun Haji. Di samping itu, peristiwa bagaimana nabi Ismail menjadi korban juga mengingatkan kita akan ketakwaan baginda kepada Allah. Nabi Ibrahim telah menerima wahyu dari Allah untuk mengorbankan anaknya, nabi Ismail. Kedua-dua anak beranak ini, akur dengan perintah Allah, walaupun telah digoda oleh syaitan. Semasa nabi Ibrahim ingin menyembelih leher anaknya, malaikat telah membalikkan pisau yang tajam itu, dan membisikkan kepada baginda akan wahyu Tuhan agar tidak meneruskan penyembelihan itu, sebaliknya cukuplah sekadar mengorbankan seekor kambing biri-biri.

Apabila sudah dewasa, nabi Ismail berkahwin dengan seorang gadis, tetapi akhirnya mereka bercerai kerana isteri baginda sudah berlaku tidak sopan kepada nabi Ibrahim yang telah menyamar menjadi seorang tua. Kemudian nabi Ismail telah berkahwin dengan puteri ketua suku Jurhum dan perkahwinan ini berkekalan.

Pembinaan semula Baitullah

Baitullah yang juga dikenali sebagai Kaabah merupakan arah kiblat bagi semua umat Islam bersembahyang untuk mengabdikan diri kepada Allah. Kaabah pada mulanya telah dibina oleh nabi Adam, bapa kepada sekalian manusia. Apabila banjir besar melanda Mekah, Kaabah telah rosak. Nabi Ibrahim telah membinanya semula di atas tapak yang sama.Baginda telah meminta nabi Ismail untuk mencari sebiji batu bagi menandakan penjuru bagi Kaabah. Maka Jibril telah memberikan nabi Ismail petunjuk untuk mencari sebiji batu yang diberi nama Hajarul Aswad. Semasa batu itu diletakkan, mereka telah berdoa;

"(Ingatlah)ketika Ibrahim mempertinggi asas Bait (Kaabah) bersamai Ismail, (kemudian berkata): Ya Tuhan kami, terimalah amalan kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami dua orang muslim, (patuh mengikut Mu) dan dari anak cucu kami menjadi umat muslim bagi Engkau, dan perlihatkanlah kepada kami 'amalan haji' dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (al-Baqarah, 2:127-129)

Pendudukan Mekah

Nabi Ismail dan ibunya tinggal berhampiran dengan Kaabah. Keturunan mereka berkembang kepada suku-suku kaum di Mekah. Salah satu darinya dikenali sebagai Quraisy. Daripada suku ini, telah lahir seorang manusia yang agung iaitu Nabi Muhammad SAW. Mekah kemudiannya telah menjadi pusat perkembangan Islam yang termasyhur di seluruh dunia.

KISAH NABI LUTH A.S.

Posted by d'caliphate Tuesday, November 17, 2009 0 comments

Kedatangan Nabi Luth

Nabi Lut A.S. adalah sezaman dengan Nabi Ibrahim A.S. Dia adalah pengikut kepercayaan bapa saudara baginda. Baginda adalah rakyat Ur, bandar besar di Mesopotamia semasa Allah menganugerahkan kenabian ke atas baginda.

Baginda diperintahkan untuk meninggalkan tanah asal baginda dan pergi ke Sodom dan Gamorra untuk memberi amaran dan memulihkan kaum yang terlibat dengan hubungan homoseksual dan rompakan.

"Dan (kami juga mengutus) Lut (kepada kaumnya). (Ingatlah)tatkala dia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu? " Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas."

(Al-'Araaf, 7: 80-81)

Dalam ayat yang lain, terdapat penerangan tentang sifat kaum yang berdosa tersebut.

"Dan (ingatlah) ketika Lut berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu" Apakah kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Maka jawapan kaumnya tidak lain hanya mengatakan: "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar" ". (Al-Ankabut, 29: 28-29)

KISAH NABI IBRAHIM A.S.

Posted by d'caliphate 0 comments

Kedatangan Nabi Ibrahim A.S.


Pada suatu ketika dahulu, Allah telah memberi penghormatan dengan memilih Ibrahim sebagai nabi. Baginda berasal dari Mesopotamia yang sekarang dikenali sebagai Iraq Selatan. Baginda adalah model yang sesuai untuk umat manusia. Allah telah menyebutnya dalam Al-Quran yang bermaksud:


"Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan seorang yang selalu berpegang kepada kebenaran dan tidak pernah meninggalkannya. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang salih"


(An-Nahl, 16: 120-122)


Seruan baginda kepada kaum yang menganuti kepercayaan animisme. Pada zaman itu, kejahilan menguasai pemikiran para penduduk. Kebanyakannya tidak mengetahui tentang Allah dan ajaran-Nya. Mereka memuja matahari, bulan dan bintang namun mereka juga merupakan ahli astronomi yang mengetahui pergerakan planet. Mereka juga menyembah berhala yang diperbuat daripada batu dan kayu dan memberi pelbagai bentuk pemberian kepada berhala-berhala tersebut. Ahli agama mendapat tempat yang baik dalam masyarakat dan diperintahkan kepada para penduduk supaya mereka dihormati. Mereka ini juga dibayar dengan lumayan tetapi kaum yang miskin makin tertindas.


Nabi Ibrahim A.S. merupakan anak kepada Terah yang lebih dikenali sebagai Adhar. Adhar adalah seorang pengukir berhala dan juga pengikut kepercayaan animisme. Dia turut memaksa Nabi Ibrahim A.S. melakukan kerja mengukir berhala tetapi baginda enggan melakukannya. Baginda sangat benci akan berhala yang tidak boleh melihat, mendengar dan bercakap itu.


Ajaran Nabi Ibrahim A.S.


Nabi Ibrahim A.S. menerima wahyu daripada Allah melalui malaikat Jibril. Baginda mula menyampaikan ajaran Allah secara perlahan-lahan. Baginda bekerja dengan tekun dan mula bertelagah dengan orang yang membuat berhala.


"(Ingatkah), ketika Nabi Ibrahim A.S. berkata kepada bapaknya dan kaum baginda: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?". Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab:"Apakah kamu datang kepada kami dengan bersungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?". Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya." (Al-Anbiyya, 21: 52-57)

KISAH NABI SALLEH A.S.

Posted by d'caliphate 0 comments

Salleh diutuskan sebagai nabi kepada Bani Thamud untuk membetulkan kaumnya yang telah mengalami keruntuhan akhlak. Kaum Thamud adalah keturunan Thamud, cucu lelaki kepada Sam. Mereka tinggal di Wadi al-Qura dan al-Hajr antara Syria dan Hijaz. Mereka sangat taksub dengan idola-idola mereka dan mempercayai bahawa idola-idola tersebut memberikan mereka makanan dan hujan, menghalang mereka daripada bahaya dan mengembalikan kesihatan mereka apabila sakit. Kumpulan ini berkembang lebih dua abad selepas kaum 'Ad. Mereka terkenal dengan usia yang panjang dan saiz badan yang besar. Mereka membina bangunan-bangunan yang luas di dalam gua di pergunungan dan mencapai kekuasaan yang luas.

Penyembelihan Unta Betina

Nabi Salleh A.S. dihantar oleh Allah untuk menyeru kumpulan tersebut menyembah Allah yang satu tetapi mereka telah memekakkan telinga mereka untuk mendengar seruan tersebut. Apabila Nabi Salleh A.S. menegur tentang tuhan-tuhan mereka, mereka berkelakuan biadap terhadap baginda. Akhirnya mereka merancang untuk membunuh Nabi Salleh A.S. Allah telah menghantar seekor unta betina sebagai tanda amaran kepada mereka. Sekiranya mereka memindahkan unta tersebut, Allah akan menurunkan bala ke atas mereka. Tiada yang peliknya menjadikan unta betina sebagai tanda. Diketahui bahawa Ka'bah adalah satu bangunan yang menjadi tanda dari Allah. Sesiapa yang cuba memusnahkannya adalah cuba membunuh dirinya. Sama seperti Ka'bah, unta betina adalah salah satu tanda oleh Allah. Nabi Salleh A.S. meminta supaya unta itu dibenarkan untuk meragut rumput di padang dan minum di mata air. Orang-orang yang degil telah menyembelih unta tersebut semasa ia meragut rumput di padang ragut.

Hukuman Diturunkan Oleh Allah


Apabila mereka hendak bertindak melaksanakan rancangan mereka yang terakhir menentang Nabi Salleh A.S. Mereka telah dimusnahkan dengan hukuman Allah. Satu bala telah menimpa dan mereka telah dimusnahkan dengan letupan gunung berapi yang meliputi kawasan mereka dengan batu-batu. Bala yang menimpa Ban Thamud itu amat dahsyat.
Penerangan Dalam Al-Quran


Sesetengah rujukan yang berkaitan dengan Nabi Salleh A.S. dan kaumnya adalah mengikut ayat-ayat berikut.

"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Thamud saudara mereka, Salleh. Ia berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih" Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu maharajalela di muka bumi membuat kerosakan. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: "Tahukah kamu bahawa Salih diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Salleh diutus untuk menyampaikannya" Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu" Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Salleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)" Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka." (Al-'Araaf, 7: 73-78)

KISAH NABI HUD A.S.

Posted by d'caliphate 0 comments

Hud A.S. adalah Nabi yang diutuskan kepada Bani 'Ád untuk memulihkan kaum tersebut. Salasilah keturunan baginda berkait dengan Nabi Nuh A.S. dan anaknya. Nabi Huud A.S. berasal dari keturunan Bani 'Ád yang merupakan generasi Sam.

Kualiti Kaum 'Ad Yang Cemerlang

Kaum 'Ád bertengkar dengan anak-anak kaum Ham dan meninggalkan Babylon. Mereka menjadi penduduk di suatu daerah yang terletak di selatan Arab bersempadan dengan Oman, Yaman dan Hadramaut. Di sana, mereka membina istana-istana dan kuil-kuil yang menyembah banyak tuhan dan bintang-bintang . Nama-nama tuhan-tuhan mereka yang utama ialah Saqiah, Salimah, Raziqah dan Hafizun. Kaum Bani 'Ád sangat mahir dalam ukiran batu. Allah telah mengurniakan kepada mereka kekayaan, binatang ternakan, anak-anak dan taman-taman yang indah. Mereka telah mencapai tamadun yang tinggi dan Raja mereka yang terkenal ialah Shaddad. Dia membina istana yang sangat besar berhampiran Adal yang dikenali sebagai Taman Iram (Garden of Iram). Dia juga adalah raja yang kuat dan menakluki sehingga ke Syria, Iraq dan sempadan bahagian benua Indo-pakistan. Kaum ini sangat bangga dengan pencapaian mereka dan menganggap diri mereka unggul dan tidak boleh dilawan. Mereka tenggelam dalam dosa dan perbuatan ganas serta tidak adil. Mereka sedikitpun tidak menunjukkan rasa kesyukuran terhadap nikmat yang dikurniakan oleh Allah, malah menjadi hamba yang ingkar kepada perintah-Nya.

Kemunculan Nabi Huud A.S. Dan Menyampaikan Seruan

Nabi Huud A.S. muncul di tengah-tengah kaum tersebut sebagai pemimpin mereka. Dia berusaha bersungguh-sungguh untuk membawa mereka kembali menyembah Allah. Baginda mengarahkan mereka supaya meninggalkan perbuatan mungkar . Mereka langsung tidak menghiraukan ajaran dan amalan baginda.

"Dan (kami telah mengutus) kepada kaum 'Ad, saudara mereka Huud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya " " (al-'Araf, 11: 65)

Banjir Melanda

Kaum itu tidak mendengar seruannya dan tidak menurut perintah Allah. Maka dengan itu, Allah menurunkan kemurkaan-Nya kepada mereka. Arus yang sangat deras yang jarang berlaku dan ribut yang sangat dasyat telah melanda kaum tersebut yang hampir memusnahkan kebanyakan penduduk daripada kaum tersebut. Ayat al-Quran ada menerangkan seperti berikut:

"Adapun kaum 'Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)" (Al-Haqqah, 69: 6-7)

"Maka kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari kami, dan kami tumpaskan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman." (Al-'Araf, 7: 72)

Selepas itu, orang-orang yang bertahan, memulakan hidup baru di Yaman. Makam Nabi Huud A.S. di semadikan di Hadramaut dan selalunya dikunjungi oleh orang-orang Arab pada bulan Rejab.

.::Refleksi Minda:.

.:Arkib kami:.

About Me

d'caliphate
"Menggali ilmu,mencari diri untuk menyuluh anak pertiwi..walau susah,walau sengsara,kami cuba untuk berbakti..Moga sedikit usaha ini diberkati oleh Illahi.."
View my complete profile

.:Find Al-Quran:.

Search in the Quran
Search:
Download | Free Code
www.SearchTruth.com

.:Find Al-Hadith:.

Search in the Hadith
Search:
in
Download | Free Code
www.SearchTruth.com